Rabu, 08 Januari 2014

Cerita Bersambung Islam ( RASA DALAM NAFAS) part 1




1.Perkenalanku Dengan Salwa
         

          Ba’da subuh aku dan teman-teman di pesantren keluar untuk jalan-jalan subuh. Cuaca pada saat ini sangat dingin membuat gigi dan tulang kami gemetaran,tapi rasa dingin ini akan terbayar jika kami telah sampai di area puncak.
Indah terbit fajar di tengah-tengah pegunungan,burung-burung yang berterbangan diatas langit biru,dan awan seputih bulu domba merubah raut wajah kami yang sedari tadi menunggu keindahan alam tuhan yang luar biasa.

“Kak Iman,ayo kita foto bersama.Pemandangannya indah sekali.Ini untuk kenang-kenangan kita” saran Hasan yang mengeluarkan kamera dari saku celananya.”Ide bagus san,satu minggu lagi kan pengumuman kelulusan kita”,jawabku sambil mengambil kamera dari tangan Hasan.Kami secara bergantian berpose seperti seorang cover boy.”Kak Iman,coba lihat hasilnya”,seru Balqis dan Hambali.”Aku akan mencetak foto-foto ini” saran Arif.Kami berlima memang akrab sejak pertama ujian masuk Pesantren Darussalam.

Dari kami berlima aku dan Balqis yang bukan dari tanah jawa aku berasal dari makassar,dan Balqis dari Aceh.Balqis adalah salah satu korban selamat tsunami di Aceh pada saat itu.Dia seorang yatim piatu,orang tuanya tak selamat diterkam gelombang tersebut.Dia dibawa dan diasuh oleh guru besar kami sekaligus pemilik pondok pesantren darussalam ini yaitu K.H. Abdul Fathah.Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7.45,kami bergegas pulang ke pesantren. Seperti biasanya kami mandi dan bergegas sarapan di ruang makan pesantren.
***

Hari ini adalah hari libur setelah menjalankan ujian akhir di pondok pesantren ini,warga pesantren sering menyebutnya dengan hari tenang.Aku bermaksud ingin keluar hari ini untuk membeli novel islami terbaru yaitu “99 cahaya di langit eropa”. Novel ini termasuk best seller,jadi aku harus buru-buru untuk membelinya.Setelah aku meminta izin kepada ustadzah Aisyah, aku mengambil sepeda  hendak ke toko buku.

Aku kayuh sepedaku dengan penuh semangat, aku harap bisa tepat waktu karena novel sebagus itu pastinya akan cepat diburu para pembaca.Akhirnya,aku tiba juga disana banyak sekali pengunjungnya.Aku berlari masuk ke toko buku.Aku menghampiri rak buku itu “wah untung saja masih ada satu yang tersisa”,ucapku dalam hati sambil menghela nafas yang panjang.Namun,baru saja kuhembuskan nafasku sudah ada wanita berhijab biru yang mengambilnya.Lantas aku mengambil dari tangannya lagi.

Dia langsung menatapku dan berkata “aku duluan yang mengambilnya mas”,ucapnya.
“Tapi aku duluan yang melihat novel itu”,jawabku.

Kami berebut buku,kami pun ribut didalam toko itu.Kami berdua memutuskan untuk ke penjaga toko untuk menanyakan apakah masih ada novel itu atau tidak.”mba, novel ini masih ada nggak?,tanyaku kepada penjaga itu.
“Maaf mas dan mba novel itu masih limited edition di toko kami ini,tapi seminggu lagi ada lagi kok jawabnya.”Oh begitu mba,makasih sebelumnya”,jawabku.

Kami kembali bertengkar,saat itu aku tersadar  “astagfirullahalladziim, jika kamu menginginkan sekali buku ini ambil saja”,ungkapku dengan nada yang rendah.
“Beneran ni mas?”,jawabnya.
“Yah, ambil saja!”.jawabku.
Dia mengulurkan tangannya,dan berkata namaku “Salwa Aisyatunnisa”.Lidahku kaku ketika aku menatap wajahnya yang putih bersih,alisnya yang hitam,dan matanya seperti bunga matahari yang baru mekar di taman.Jantungku berdetak kencang dan darahku sepertinya mengalir lebih deras dari biasanya.
“Mas,mas,mas…?”,katanya sambil melambaikan tangannya didekat mataku.
 “Astagfirullahaladziim”.ungkapku dalam hati.Aku sudah melakukan zinah mata “semoga Allah S.W.T mengampuniku”,doaku dalam hati.
“Ah iya mba,kenapa?”jawabku
“Ya Allah mas,aku ini mau kenalan kok masnya ini malah ngelamun”,jawabnya.
“Oh maaf mba, namaku Iman Al-sharawy.Mba bisa memanggil aku Iman”,jawabku.
Dia masih mengulurkan tangannya untuk bersalaman,aku memohon maaf padanya aku tak bisa menjabat tangannya karena alasan dia bukan muhrimku.
“Maaf mba bukannya aku tidak sopan untuk membalas jabat tangannya mba,tapi maaf sekali lagi kita kan belum muhrim”,jelasku padanya.
“Owh barusan lho, ada cowok yang menolak menyentuh tanganku mas”,jawabnya sedikit centil dan senyuman.Aku pun membalasnya dengan senyuman.

Lantunan-lantunan indah ayat suci Al-qur’an terdengar di menara-menara masjid menandakan sebentar lagi akan datangnya waktu dzuhur.  Aku segera meninggalkan toko buku itu “mba, aku duluan ya.aku ada urusan penting”,jelasku kepadanya sambil ia menyerahkan uang ke kasir.”hmm,,, iya mas makasih yah udah mengalah”,ungkapnya.Aku berlari keluar dari toko itu.Aku berbalik arah ke arah dia.Dia melambaikan tangan dan berteriak “sampai jumpa lagi mas”.Aku hanya tersenyum.

Aku kembali mengayuh sepedaku.Hendak mencari masjid untuk menunaikan shalat dzuhur.Tibalah aku di sebuah masjid.Aku segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalat dhuha sembari menunggu bilal mengumandangkan adzan.Entah mengapa perasaanku seperti lenyap.Aku terbangun seketika ketika seorang lelaki berbaju putih lengkap dengan sorbannya.”dik bangun waktunya shalat”,katanya sambil dia membangunkanku.Aku menatapnya dengan mata yang terkantuk-kantuk.Sembari aku berdiri dan meluruskan punggungku,sang imam memulai takbir pada rakaat pertama.                
                                     
                                                                                        bersambung...