1.Perkenalanku Dengan Salwa
Ba’da
subuh aku dan teman-teman di pesantren keluar untuk jalan-jalan subuh. Cuaca
pada saat ini sangat dingin membuat gigi dan tulang kami gemetaran,tapi rasa dingin
ini akan terbayar jika kami telah sampai di area puncak.
Indah
terbit fajar di tengah-tengah pegunungan,burung-burung yang berterbangan diatas
langit biru,dan awan seputih bulu domba merubah raut wajah kami yang sedari
tadi menunggu keindahan alam tuhan yang luar biasa.
“Kak
Iman,ayo kita foto bersama.Pemandangannya indah sekali.Ini untuk
kenang-kenangan kita” saran Hasan yang mengeluarkan kamera dari saku celananya.”Ide
bagus san,satu minggu lagi kan pengumuman kelulusan kita”,jawabku sambil
mengambil kamera dari tangan Hasan.Kami secara bergantian berpose seperti
seorang cover boy.”Kak Iman,coba lihat hasilnya”,seru Balqis dan Hambali.”Aku
akan mencetak foto-foto ini” saran Arif.Kami berlima memang akrab sejak pertama
ujian masuk Pesantren Darussalam.
Dari
kami berlima aku dan Balqis yang bukan dari tanah jawa aku berasal dari
makassar,dan Balqis dari Aceh.Balqis adalah salah satu korban selamat tsunami
di Aceh pada saat itu.Dia seorang yatim piatu,orang tuanya tak selamat diterkam
gelombang tersebut.Dia dibawa dan diasuh oleh guru besar kami sekaligus pemilik
pondok pesantren darussalam ini yaitu K.H. Abdul Fathah.Tidak terasa waktu
sudah menunjukkan pukul 7.45,kami bergegas pulang ke pesantren. Seperti
biasanya kami mandi dan bergegas sarapan di ruang makan pesantren.
***
Hari ini adalah hari libur setelah menjalankan ujian
akhir di pondok pesantren ini,warga pesantren sering menyebutnya dengan hari
tenang.Aku bermaksud ingin keluar hari ini untuk membeli novel islami terbaru
yaitu “99 cahaya di langit eropa”. Novel ini termasuk best seller,jadi aku
harus buru-buru untuk membelinya.Setelah aku meminta izin kepada ustadzah Aisyah,
aku mengambil sepeda hendak ke toko
buku.
Aku kayuh sepedaku dengan penuh semangat, aku harap
bisa tepat waktu karena novel sebagus itu pastinya akan cepat diburu para
pembaca.Akhirnya,aku tiba juga disana banyak sekali pengunjungnya.Aku berlari
masuk ke toko buku.Aku menghampiri rak buku itu “wah untung saja masih ada satu
yang tersisa”,ucapku dalam hati sambil menghela nafas yang panjang.Namun,baru
saja kuhembuskan nafasku sudah ada wanita berhijab biru yang
mengambilnya.Lantas aku mengambil dari tangannya lagi.
Dia langsung menatapku dan berkata “aku duluan yang
mengambilnya mas”,ucapnya.
“Tapi aku duluan yang melihat novel itu”,jawabku.
Kami berebut buku,kami pun ribut didalam toko itu.Kami
berdua memutuskan untuk ke penjaga toko untuk menanyakan apakah masih ada novel
itu atau tidak.”mba, novel ini masih ada nggak?,tanyaku kepada penjaga itu.
“Maaf mas dan mba novel itu masih limited edition di
toko kami ini,tapi seminggu lagi ada lagi kok jawabnya.”Oh begitu mba,makasih
sebelumnya”,jawabku.
Kami kembali bertengkar,saat itu aku tersadar “astagfirullahalladziim, jika kamu
menginginkan sekali buku ini ambil saja”,ungkapku dengan nada yang rendah.
“Beneran ni mas?”,jawabnya.
“Yah, ambil saja!”.jawabku.
Dia mengulurkan tangannya,dan berkata namaku “Salwa Aisyatunnisa”.Lidahku
kaku ketika aku menatap wajahnya yang putih bersih,alisnya yang hitam,dan
matanya seperti bunga matahari yang baru mekar di taman.Jantungku berdetak
kencang dan darahku sepertinya mengalir lebih deras dari biasanya.
“Mas,mas,mas…?”,katanya sambil melambaikan tangannya
didekat mataku.
“Astagfirullahaladziim”.ungkapku dalam
hati.Aku sudah melakukan zinah mata “semoga Allah S.W.T mengampuniku”,doaku
dalam hati.
“Ah iya mba,kenapa?”jawabku
“Ya Allah mas,aku ini mau kenalan kok masnya ini malah
ngelamun”,jawabnya.
“Oh maaf mba, namaku Iman Al-sharawy.Mba bisa memanggil
aku Iman”,jawabku.
Dia masih mengulurkan tangannya untuk bersalaman,aku
memohon maaf padanya aku tak bisa menjabat tangannya karena alasan dia bukan
muhrimku.
“Maaf mba bukannya aku tidak sopan untuk membalas jabat
tangannya mba,tapi maaf sekali lagi kita kan belum muhrim”,jelasku padanya.
“Owh barusan lho, ada cowok yang menolak menyentuh
tanganku mas”,jawabnya sedikit centil dan senyuman.Aku pun membalasnya dengan
senyuman.
Lantunan-lantunan indah ayat suci Al-qur’an terdengar
di menara-menara masjid menandakan sebentar lagi akan datangnya waktu dzuhur. Aku segera meninggalkan toko buku itu “mba,
aku duluan ya.aku ada urusan penting”,jelasku kepadanya sambil ia menyerahkan
uang ke kasir.”hmm,,, iya mas makasih yah udah mengalah”,ungkapnya.Aku berlari
keluar dari toko itu.Aku berbalik arah ke arah dia.Dia melambaikan tangan dan
berteriak “sampai jumpa lagi mas”.Aku hanya tersenyum.
Aku
kembali mengayuh sepedaku.Hendak mencari masjid untuk menunaikan shalat
dzuhur.Tibalah aku di sebuah masjid.Aku segera mengambil air wudhu dan
menunaikan shalat dhuha sembari menunggu bilal mengumandangkan adzan.Entah
mengapa perasaanku seperti lenyap.Aku terbangun seketika ketika seorang lelaki
berbaju putih lengkap dengan sorbannya.”dik bangun waktunya shalat”,katanya
sambil dia membangunkanku.Aku menatapnya dengan mata yang
terkantuk-kantuk.Sembari aku berdiri dan meluruskan punggungku,sang imam
memulai takbir pada rakaat pertama.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar